SDN Kepatihan 4 Jember Menjadi Sekolah Budaya - Warta Jember

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Thursday, March 9, 2017

SDN Kepatihan 4 Jember Menjadi Sekolah Budaya

Gambar sisip 1

Jember, Wartajember.co.id - Sebuah visi memberi arah dalam melangkah. Melalui visi pula semangat untuk maju tumbuh guna melakukan perubahan. Hal itulah yang dapat ditemui di SDN Kepatihan 04 Kaliwates Jember. Seiring dengan  diusungnya visi “Sekolah Budaya” oleh lembaga pendidikan ini, perubahan pun langsung terasa mewarnai setiap sudut sekolah.
         
            Pekikan yel-yel budaya itulah yang selanjutnya menjadi semacam pedoman bagi anak-anak dalam berkata dan berperilaku. Setiap kali ada ucapan maupun tingkah laku anak yang sedikit menyimpang dari norma, cukup dengan diingatkan oleh guru bahwa mereka adalah siswa dari “Sekolah Budaya”, maka dengan sendirinya mereka tidak mengulangi lagi perbuatannya. Tidak heran jika sikap santun sekaligus disiplin begitu kental mewarnai perilaku siswa di sekolah tersebut.
            “Garapan awal saya memang sikap santun pada diri anak-anak. Hal tersebut selain memang dibutuhkan untuk meletakkan pondasi pendidikan pada diri mereka, juga untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa sekolah yang dulunya banyak disebut sebagai sekolah buangan, sekolahnya anak-anak yang bandel dan nakal, kini telah berubah yang ditunjukkan lewat penampilan siswa-siswinya yang santun,” ungkap Kepala SDN Kepatihan 04. Dhebora Krisnawati Sumarahingsih SPd,M.Pd
            Lebih jauh Dhebora menambahkan bahwa  sikap santun tersebut merupakan bagian dari 3 misi yang diusung lembaga yaitu image building, character building, dan instructional building yang tertuang dalam strategi KUKASIHI yang merupakan kepanjangan dari “Komitmen, Ulet, Komunikasi, Aktif mengikuti segala kegiatan, Simpatik, Antusias, Sinergi, Ikhlas, Harmonis dan Interes”.
            Upaya untuk mewujudkan “Sekolah Budaya”, sekolah yang bermartabat, tidak hanya sebatas itu. Pembenahan fisik juga dilakukan tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah, dan tanpa meminta bantuan dari orang tua/wali murid.
“Begitu saya dipromosikan untuk menjadi Kepala Sekolah di sini, terhitung sejak 23 Juni 2015, saat itu pula saya lakukan kajian-kajian manajerial, saya lakukan analisis konteks terhadap sekolah ini, apa saja yang dikehendaki guru-guru, apa saja yang dikehendaki komite, serta wali murid. Meskipun pada waktu itu sedang libur panjang, guru-guru saya kumpulkan, begitu juga dengan komita, dan mereka dengan senang hati datang ke sekolah untuk bersama-sama mencari solusi guna memecahkan persoalan lembaga, utamanya dari sisi fisik yang sudah kurang layak untuk dipakai sebagai tempat belajar,” papar Dhebora panjang lebar.
Akhirnya, dengan berbekal komitmen, sekolahpun direhab. Dana pembangunan diperoleh dengan berhutang, dan dari sumbangan sukarela Kepala Sekolah, guru-guru, komite dan beberapa stakeholders yang dapat diharapkan uluran tangannya.
Alhasil, wajah sekolah pun berubah menjadi jauh lebih cantik, dan lebih layak untuk dipakai belajar, termasuk ditambahkannya dua ruang untuk galeri hasil karya seni rupa siswa dan hasil karya Kepala Sekolah yang juga menggeluti dunia seni rupa.
Dampak dari perubahan wajah sekolah dan perubahan secara utuh dari lembaga pendidikan dasar ini, membuat tingkat kepercayaan masyarakat meningkat. Terbukti pada penerimaan siswa baru, dari jumlah siswa baru yang selama 3 tahun terakhir hanya mendapatkan 15 siswa, langsung melonjak drastis menjadi 35 siswa.
Di sisi lain, warga sekolah juga semakin kerasan berlama-lama di lingkungan sekolah, sehingga guru-guru meskipun sudah jam 14.00 masih enggan untuk diajak pulang, begitu juga murid-murid yang lebih suka menghabiskan waktu dengan membentuk kelompok-kelompok kecil di lingkungan sekolah meski bel pulang sudah lama berdentang.
Karena perubahan yang dilakukan SDN kepatihan 04 baru sekitar setahun setengah, peningkatan yang dilakukanpun masih belum menyentuh sisi prestasi. Disamping itu, prestasi memang bukan bidikan utama dari pimpinan lembaga ini, karena keberhasilan yang dia harapkan lebih cenderung kepada perubahan karakter dari [peserta didik.
“Target saya adalah karakter. Kalau  anak sudah memiliki karakter, maka prestasi dengan sendirinya akan mengikuti. Terbukti, untuk bidang kaligrafi, anak-anak yang semula masih nol, cukup dengan saya ajari sendiri, mereka sudah bisa meraih juara harapan,” ungkap Dhebora
Harapan ke depan dengan terus dilakukannya peningkatan di SDN Kepatihan 04, kejayaan sekolah tersebut dapat dikembalikan sebagaimana masa-masa dulu. Awalnya, sekolah ini bernama SR Kebonsari yang kemudian berkembang menjadi SD Kepatihan 07, 08 12, dan  21. Keempat sekolah mengalami perkembangan lagi menjadi beberapa sekolah sebelum akhirnya menjadi SD Joko Thole sekitar tahun 1986. ( AB)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here