JEMBER, Wartajember.co.id - Jumlah persentase bayi di bawah lima tahun
(balita) yang mengalami gizi buruk di Kabupaten Jember masih jauh di bawah Jawa
Timur yang ditarget sebesar 15 %. Jika dilihat dari angka absolute maka total
jumlah gizi buruk menjadi terlihat besar dibanding kota lain di Jawa Timur,
karena perbandingan angka jumlah penduduknya jauh di bawah Jember.
Demikian dijelaskan resmi oleh dr
Siti Nurul Qomariah, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember saat
ditanya sejumlah wartawan, tentang informasi yang menyebut bahwa angka gizi
buruk di Kabupaten Jember tinggi.
Menurut Nurul Qomariah, benar informasi tentang gizi buruk itu
disampaikan oleh Pemerintah Pusat, kemudian data yang dimaksud sebagai gizi
buruk diambil dari data PSG pemantauan status gizi balita berdasarkan TB/U
(Tinggi badan per umur) itu ditangkap sejumlah anggota DPR untuk disampaikan ke publik agar menjadi
perhatian. Tetapi, angka yang disampaikan itu merupakan angka absolute.
Jika melihat nilai absolute maka
angka gizi buruk terlihat besar, karena jumlahnya ada 8000 an. Padahal angka
itu merupakan angka total pencatatan gizi buruk dan gizi kurang sejak ada
kelahiran bayi hingga usia 5 tahun.
Kalau jumlah gizi buruk Jember hanya ada
300 saja. Tetapi apa yang disampaikan DPR itu hanya melihat total angka gizi
buruk dan gizi kurang, yakni berjumlah 8.000 nya sehingga terlihat besar. Tetapi
sebenarnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka persentase di Jember
sangat kecil, dibanding kota lain dan target Jawa Timur, yang ditetapkan
sebesar 15 %.
Data gizi buruk itu diambil dari data (PSG)
pemantauan status gizi balita berdasarkan TB/U (tinggi badan per umur). Pemantauan
status gizi balita dilakukan pemerintah sejak kelahiran sampai bayi berusia
lima tahun. Tahapan pendataan itu adalah bayi dengan kriteria gizi, antara lain ; gizi kurang, gizi buruk, gizi
cukup atau normal dan gizi lebih.
Kalau mau jujur, kata Qomariah, angka 8000 jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk Jember maka persentasenya akan kecil.
Apalagi saat dilihat laporannya sebenarnya, angka gizi buruk di Jember hanya
300 an orang. Angka 8000 itu angka total gizi buruk diambah gizi kurang.
“Kalau
yang dilihat itu angka total nya memang besar yakni 8.000, dan ini dibandingkan
dengan kota lain ya besar. Karena kota lain itu penduduknya kecil. Kalau gizi
buruk hanya 300 anak, “ ujar Bu Dokter yang dikenal tegas ini.
Tetapi
angka tersebut jika dilihat secara absolute maka akan sangat maton (tampak,
red) nilainya tetapi persentase Jember
masih di bawah target Jawa Timur yang ditetapkan 15 %.
“Memang informasinya dari pusat kurang ditangkap
detail, bahwa balita dengan criteria status gizi criteria itu ada tahapan yakni mulai dari gizi buruk, gizi kurang, gizi cukup atau normal,
dan gizi lebih. Untuk Kabupaten Jember angka total gizi kurang dan gizi buruk berjumlah
8.000. Gizi buruk sendiri ada 300. Kalau lihat angka absolute ya besar, tapi persentase
masih di bawah Jatim. Lihat saja, angka itu jelas berpengaruh karena jika
dilihat persentase dari jumlah balita yang ada. Akan makin besar angka itu,
karena dibandingkan dengan jumlah penduduk yang besar,” beber Nurul Qomariah,
yang menegaskan bahwa angka kelahiran bayi di Jember per hari mencapai kisaran
77 -100 an kelahiran. ( Lumlawalata/HMS/AB )
No comments:
Post a Comment